Blog Archives

Tanda-tanda orang munafiq

Hudzaifah.org – Sahabat Hudzaifah r.a pernah berkata: “Orang-orang munafik sekarang lebih jahat (berbahaya) daripada orang munafik pada masa Rasulullah saw.”
Ditanyakan kepadanya: “Mengapa demikian?”
Hudzaifah menjawab: “Sesungguhnya pada masa Rasulullah saw mereka menyembunyikan kenifakannya, sedangkan sekarang mereka berani menampakkannya.” (Diriwayatkan oleh Al Farayabi tentang sifat an nifaq (51-51), dengan isnad shahih)

Pernyataan sahabat Hudzaifah r.a itu diucapkannya pada 14 abad yang lampau. Jika demikian, bagaimana dengan orang-orang munafik pada abad ini?

Orang-Orang Munafiq dalam Al Qur’an

Allah telah menyebut kata an nifaq dan kata jadiannya di dalam Al Qur’an sebanyak 37 kali dalam surat yang berbeda. Yaitu, di dalam surat ‘Ali Imran, Al Hasyr, At Taubah, Al Ahzab, Al Fath, Al Hadid, Al Anfal, Al Munafiqun, An Nisaa, Al Ankabut, dan At Tahrim.

Kata an nifaq serta bentuk-bentuk jadiannya diulang-ulang penyebutannya pada sebagian dari surat-surat tersebut. Hal ini menunjukkan betapa sangat berbahaya orang-orang munafiq itu terhadap mujtama’ (masyarakat) dan Ad Din (agama).

Macam-Macam Nifaq

Menurut Ahlussunnah Wal Jama’ah, sifat nifak itu terbagi menjadi dua macam:
Pertama: Nifaq I’tiqadi (nifak dalam bentuk keimanan)
Nifak jenis ini menyebabkan pelakunya keluar dari agama (millah). Pelaku nifaq i’tiqadi ini ditempatkan pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Orang seperti ini di dalam hatinya mendustakan kitab-kitab Allah dan para malaikat-Nya, atau mendustakan salah satu asas dari asas Ahlussunnah. Dalil nifaq i’tiqadi ini adalah firman Allah Subhananu wa Ta’ala : “Di antara manusia ada yang mengatakan: ‘Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,’ padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (Al Baqarah 8-10)

Kedua: Nifaq ‘Amali (nifaq dalam bentuk perbuatan)

Dalil mengenai nifaq ‘amali ini adalah sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim: “Ada tiga tanda orang munafiq: jika berkata ia dusta, jika berjanji ia ingkar, dan jika dipercaya ia khianat.”
Berikut ini ketiga puluh karakter orang-orang munafiq tersebut. Kemudian akan diperinci penjelasannya satu persatu:

Karakter Ke-1 : Dusta
Karakter Ke-2 : Khianat
Karakter Ke-3 : Fujur dalam Pertikaian
Karakter Ke-4 : Ingkar Janji
Karakter Ke-5 : Malas Beribadah
Karakter Ke-6 : Riya
Karakter Ke-7 : Sedikit Berdzikir
Karakter Ke-8 : Mempercepat Shalat
Karakter Ke-9 : Mencela Orang-Orang yang Taat dan Sholeh
Karakter Ke-10 : Memperolok Al Qur’an, As Sunnah, dan Rasulullah saw
Karakter Ke-11 : Bersumpah Palsu
Karakter Ke-12 : Enggan Berinfaq
Karakter Ke-13 : Tidak Memiliki Kepedulian terhadap Nasib Kaum Muslimin
Karakter Ke-14 : Suka Menyebakan Kabar Dusta
Karakter Ke-15 : Mengingkari Takdir
Karakter Ke-16 : Mencaci maki Kehormatan Orang-Orang Sholeh
Karakter Ke-17 : Sering Meninggalkan Shalat Berjamaah
Karakter Ke-18 : Membuat Kerusakan di Muka Bumi dengan Dalih Mengadakan Perbaikan
Karakter Ke-19 : Tidak Ada Kesesuaian antara Zhahir dengan Batin
Karakter Ke-20 : Takut Terhadap Kejadian Apa pun
Karakter Ke-21 : Berudzur dengan Dalih Dusta
Karakter Ke-22 : Menyuruh Kemungkaran dan Mencegah Kema’rufan
Karakter Ke-23 : Bakhil
Karakter Ke-24 : Lupa Kepada Allah SWT
Karakter Ke-25 : Mendustakan janji Allah dan Rasul-Nya
Karakter Ke-26 : Lebih Memperhatikan Zhahir, Mengabaikan Batin
Karakter Ke-27 : Sombong dalam Berbicara
Karakter Ke-28 : Tidak Memahami Ad Din
Karakter Ke-29 : Bersembunyi dari Manusia dan Menantang Allah dengan Dosa
Karakter Ke-30 : Senang dengan Musibah yang Menimpa Orang-Orang Beriman dan Dengki Terhadap Kebahagiaan Mereka

Karakter Ke-1 : Dusta

Imam Ibnu Taimiyyah berkata: “Al Kidzb (dusta) adalah salah satu rukun (elemen) dari kekufuran.” Selanjutnya beliau menuturkan bahwa jika Allah menyebut nifak dalam Al Qur’an, maka Dia menyebutkannya bersama dusta (al kidzb). Dan apabila Allah menyebut al kidzb, maka kata nifak disebutkan bersamanya. “Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”(QS. Al Baqarah : 9-10). ”Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.” (QS. Al Munafiqun: 1)

Demikian juga apabila Allah menyebut tentang nifak, maka disebut pula qillatudz zikr (sedikit berdzikir kepada Allah). “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali “(QS. An Nisaa :142).

Sedangkan jika Allah meyebut tentang iman, disebut juga dzikrullah (mengingat Allah). ”Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al Munafiqun : 9).

Di dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda: “Tanda orang munafiq ada tida, salah satunya adalah jika berbicara dia dusta.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari pada Kitab Al Iman, Bab ‘Alamah al Munafiq, juz 1/11 (Fathul Bahri), juga diriwayatkan oleh Imam Muslim pada Kitab Al Iman, Bab Bayan Khishaal Al Munafiq, juz II, Jilid I, hlm. 46 (Syarh An Nawai). Keduanya dari Abu Hurairah r.a)

Dusta merupakan karakter yang secara kongkret membuktikan bahwa pelakunya telah terjangkiti “virus” nifak. Demikian pula halnya orang yang berdusta dengan cara bergurau (main-main) –meski sebagian orang telah meremehkan hal ini. Hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan Imam ahmad dalam kitab Musnad-nya dengan sanad jayid (baik), yang berbunyi:

“Celakalah bagi orang yang berbicara (bercerita) lalu berbohong agar orang-orang tertawa dengan cerita dustanya itu. Celaka baginya, celaka baginya, celaka baginya.”

Karakter Ke-2 : Khianat

Dalil yang mendasari karakter ini adalah sabda Rasulullah saw : “Dan apabila berjanji, dia berkhianat.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari pada Kitab Al Iman, Bab ‘Alamah al Munafiq, juz 1/11 (Fathul Bahri), juga diriwayatkan oleh Imam Muslim pada Kitab Al Iman, Bab Bayan Khishaal Al Munafiq, juz II, Jilid I, hlm. 46 (Syarh An Nawai). Keduanya dari Abdullah bin amr bin Al ‘ash)

Barangsiapa bersumpah kepada kaum muslimin atau kepada waliyul ‘amr (penguasa) –ataupun mengikat perjanjian dengan orang kafir dalam suatu peperangan—kemudian ia mengkhianati perjanjian yang telah ia sepakati, maka ia terhadap dirinya sendiri sebagai orang munafik, seperti yang termuat dalam Shahih Muslim, ketika Rasulullah saw melantik seseorang menjadi pemimpin dari serombongan tentara. Pada saat itu beliau berpesan:

“….Apabila kamu telah mengepung penduduk suatu kampung, lalu mereka mengharapkan agar kamu membat janji dengan Allah dan Nabi-Nya untuk mereka, maka janganlah kamu mengabulkannya. Namun, ikatlah mereka dengan janjimu dan para sahabatmu. Sebab, seandainya kamu melanggar perjanjian tersebut, maka akan lebih ringan dibandingkan pelanggaran terhadap janji Allah dan Rasul-Nya. Dan jika kamu mengepung penduduk suatu perkampungan (perbentengan), lalu memintamu untuk menurunkan kepada mereka hukum Allah, maka janganlah kamu mengabulkannya. Namun, turunkanlah kepada mereka hukummu. Karena sesungguhnya engkau tidak tahu apakah mereka mampu menerapkan hukum Allah terhadap mereka atau tidak.”(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Kitab As Sair, Bab Ta’mirul ‘Umara ‘Alal Bu’uts, jilid IV, juz 12/3-38 (Syarh Nawawi).

Dengan demikian, barangsiapa memberikan janji kepada seseorang, atau kepada istrinya, anaknya, sahabatnya, atau kepada seseorang yang berwenang—kemudian dia mengkhianati janji tersebut tanpa ada sebab udzur syar’i—maka telah dianggap pada dirinya ada salah satu tanda kemunafikan.

Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya pada hari kiamat Allah akan meletakkan pada pengkhianat sebuah bendera. Lalu dikatakan: ‘Ingatlah, inilah pengkhianatan si fulan’. (HR. Imam Muslim)

Termasuk ke dalam pengkhianatan adalah menyia-nyiakan amanat. Sebagaimana kita ketahui, di pundak setiap muslim bertumpuk berbagai macam amanat. Mulai dari amanat Allah dan Rasul-Nya, amanat dakwah, amanat rumah tangga, amanat profesi, sampai kepada amanat dari diri sendiri. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al Anfaal : 27).

Karakter Ke-3 : Fujur dalam Pertikaian

Sabda Rasulullah SAW dalam Kitab Shahih Bukhari dan Muslim:
“Dan apabila bertengkar (bertikai), dia lacur.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari pada Kitab Al Iman, Bab ‘Alamah al Munafiq, juz 1/11 (Fathul Bahri), juga diriwayatkan oleh Imam Muslim pada Kitab Al Iman, Bab Bayan Khishaal Al Munafiq, juz II, Jilid I, hlm. 46 (Syarh An Nawai). Keduanya dari Abdullah bin amr bin Al ‘ash).

Para ulama berpendapat, barangsiapa bertikai dengan seorang muslim –saya sebutkan “seorang muslim”, sebab pertikaian dengan orang-orang kafir memiliki pembahasan tersendiri—kemudian dia berbuat lacur/fasik dalam pertengkarannya, maka Allah menyaksikan bahwa orang tersebut tergolong fajur (yang berbuat lacur) sekaligus munafik.

Sementara itu, mengenai pertengkaran dengan orang kafir, dalam hal ini ada hadits Nabi SAW yang menyebutkan: “Peperangan itu tipu muslihat.” ( Diriwayatkan oleh Abu Daud pada Kitab Al Adab, Bab Al “idah, nomor 4996. Dan Imam Al Baihaqi (10/198) dari jalan Ibrahim bin Thahan dengan isnad yang sama, dalam Kitab Asy Syahadat, Bab Man Wa’ada Ghairuhu. Hadits ini dha’if karena perawi yang majhul, yaitu Abdul Karim bin Abdullah bin Syaqiq. Lihat Kitab Sunan Abu daud, hadits nomor 4996).

Ali bin Abi Thalib sendiri dalam menghadapi musuh kafir menerapkan strategi dengan landasan hadits tersebut. Apabila orang-orang kafir telah berkhianat, lalu kita mempermainkan dan mengadakan tipu muslihat terhadap mereka, maka hal itu mempunyai landasan serta tidak termasuk khianat dan lacur. Hal ini tergolong dalam kategori strategi dan tipu muslihat terhadap musuh Islam.

Karakter Ke-4 : Ingkar Janji

Rasulullah SAW bersabda: “Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya (diberi amanat) dia berkhianat.” (HR. Bukhari-Muslim)

Inkgar janji adalah sifat yang dapat merusak dan memporak-porandakan seluruh rencana. Ingkar janjji juga merupakan perilaku buruk yang dapat melunturkan kepercayaan dan kesetiaan masyarakat kepada seseorang. Seperti kurang disiplin dalam menepati waktu. Bahkan, keterlambatan seakan-akan telah menjadi sesuatu yang biasa. Oleh sebab itu, barangsiapa berjanji kepadamu dengan menentukan tempat dan waktu kesepakatan, kemudian mengingkari janji tersebut tanpa ada udzur syar’i, maka di dalam jiwanya telah bercokol cabang kemunafikan.

Seorang ulama yang shaleh, jika berjanji kepada sauadara-saudaranya sesama muslim selalu mengatakan, “Insya Allah, antara saya dan kamu tidak ada mau’id (waktu perjanjian). Jika saya dapat, saya akan datang. Namun, jika tidak dapt, berarti saya udzur.” Hal demikian dilakukannya dengan tujuan agar pada dirinya tidak tertulis salah satu dari cabang-cabang kemunafikan.

Bersambung….

Sumber : Kitab 30 Tanda-Tanda Orang Munafiq, A’aidl Abdullah al Qarni

False memory

Learning & Memory© on False Memories Print-Friendly  Order the PDF version  Order the RTF version    

False Memories

False memories may be full-blown memories of events that were never experienced or (perhaps more commonly) memories that are distorted (i.e., the event one is remembering actually occurred, but it did not occur in the way that is being recalled). Even though memory can foster an illusion of reliving an experience, it is actually a reconstruction and hence subject to departures from objective facts. This entry focuses on false episodic memories, or inaccurate memories of episodes in one’s past, which can be distinguished from false semantic memories, which include inaccurate knowledge (e.g., erroneously believing that the capital of Russia is St. Petersburg).

For example, when conveying anecdotes in casual social interactions, people sometimes embellish them to make them more interesting, often spicing them with fresh details in subsequent retellings to assure the desired pungency. Although innocent in intent, such embellishments can actually alter the teller’s own memory of the event. Even though the raconteur might be fully aware of the fictional enhancements at the time, he or she may in time come to think of them as actual components of the original event (Tversky and Marsh, 2000).

We distinguish here between two broad classes of episodic false memories: those that arise from internal processes (e.g., the example regarding embellishments) and those that arise from external events (e.g., from hearing other peoples’ erroneous accounts of an event). In the former case, people’s own thoughts, associations, or inferences cause them to misremember the past, whereas in the latter case, the false memories arise from someone else’s overt suggestion or misleading statements.

False Memories Arising from Internal Processes

In everyday conversation, listeners often make inferences that stretch the meaning of the speaker’s explicit words. For example, if a colleague told you that his infant had “stayed awake all night,” you might infer that the baby had cried. Such inferences often insinuate themselves into memory. Indeed, when asked later, one might be likely to recall the statement as having been “the infant cried all night” (Brewer, 1977; Bransford and Franks, 1971).

The literature on the role of schemas (or general world knowledge) on memory also sheds light on the influence that inferences can have on memory. This work is rooted in studies by Bartlett (1932), who demonstrated that when English students were presented with an American Indian folktale that they found difficult to comprehend, the flaws in their memories of the folktale often betrayed British cultural influences.

More recent experimental investigations into internally generated false memories include studies in which people are given short lists of about fifteen related words to remember (e.g., bed, rest, awake, tired, dream). When given an immediate free recall test after such a list (and told to recall every word that is remembered in any order but without guessing), people often recall sleep, a related (but not presented) word (Roediger and McDermott, 1995). This approach, which allows the rapid implanting of numerous mini false memories, enables researchers to manipulate various independent and subject variables in order to observe their effects on false recall (and false recognition) probabilities (Roediger and McDermott, 2000). This work shows not only that people recall and recognize the nonpresented, related words but that they also claim to remember the precise moment of presentation of these (nonpresented) words. In addition, the forgetting function for the related, nonpresented words is less steep than the forgetting function for studied words.

Another recent line of research has investigated the role that imagination can play in distorting memory. The mere act of imagining an event can inflate the probability that a person will come to have a full-blown recollection of the (nonexistent) prior event. This phenomenon has been dubbed imagination inflation (Garry, Manning, and Loftus, 1996; Goff and Roediger, 1998).

Not only can imagining an event that did not previously occur create memories for that event, but also describing an event that did indeed occur can color memory for that event. For example, if expert wine tasters describe a wine they just sampled, it does not change their memory for the wine; if, however, intermediate-level wine tasters attempt to describe the wine just enjoyed, the descriptions skew their later memory of the wine (Melcher and Schooler, 1996). This interference from attempting to verbalize an experience that is not readily amenable to accurate verbal description has been termed “verbal overshadowing” by Jonathan Schooler.

False Memories Arising from External Factors

Some of the best-known false memory work can be considered adaptations of the classic studies of retroactive interference, in which a subsequent event can interfere with memory for a similar, prior event (McGeoch, 1932). In its more modern manifestation, subjects might be presented with a slide show or videotape depicting a car crash and later be exposed to misleading information about this event either through a narrative, suggestive questions, or both. In a classic study by Loftus and Palmer (1974), such a crash was followed by a questionnaire asking people a series of questions about the crash. The critical manipulation was a single verb in one of the questions: contacted, hit, bumped, collided, or smashed. That is, people were asked, “How fast were the cars going when they ___ into each other?” Speed estimates varied markedly as a function of the verb used; when the more dramatic verb smashed was invoked, the average estimated speed was forty-one miles per hour, whereas the verb contacted elicited an average estimate of only thirty-two miles per hour. Even more amazing was that the wording of this single question influenced peoples’ memories even a week later when they were asked, “Did you see any broken glass?” Subjects were more likely to erroneously recollect broken glass if they had encountered the verb smashed a week earlier (relative to the verb hit).

Work within this tradition is often referred to as the misleading-information paradigm or sometimes the eyewitness-memory paradigm. Similar findings with respect to the role of intervening suggestions on peoples’ memories have been demonstrated for police lineups among other domains. Elizabeth Loftus combined this procedure with the imagination-inflation procedures in a case study in which she created a full-blown memory of being lost in a shopping mall in a teenage boy (Chris) who was never actually lost in a mall (Loftus, 1993). Loftus prompted the false memory by having Chris’s brother suggest the incident to Chris, complete with specific details. Two weeks after the initial description of the nonevent, Chris was able to “recall” minute details from this incident, including the balding head and the kind of eyeglasses worn by the man who rescued him. Ira Hyman and his colleagues have performed systematic studies of this type and explored individual differences among people that influence the likelihood of such false memories (Hyman and Billings, 1998).

Processes That Give Rise to False Memories

Many theoretical perspectives have been applied to the study of false memories. We focus here primarily on the Source Monitoring Framework, which has been espoused by Marcia Johnson and her colleagues (Johnson, Hastroudi, and Lindsay, 1993; Johnson and Raye, 1981). Accurate memory requires disentangling recollection of events from speculations, inferences, and imaginings. Achieving the seemingly simple goal is easier in theory than in practice. Simply asking people to focus carefully on whether something was experienced or only imagined or thought and to be sure to recall only what overtly occurred (and not what they inferred or thought) is not sufficient to avoid false memories and may even exacerbate them in some situations (Hicks and Marsh, 2001). Telling people before an encoding phase that they might be misled and that they should encode the information carefully so as not to confuse their thoughts with the overt event may aid them somewhat but is by no means sufficient to eliminate later false memories. Some research has shown that, relative to young adults, old adults have more difficulties in monitoring the retrieval process in order to avoid false memories.

Practical Implications

The fallibility of memory has become a contentious subject not only in psychological theory, but also as a result of its practical implications in the legal system, where the reliability of eyewitness accounts has come increasingly into question. Several conclusions can be safely reached from this research, however. Perhaps the most important point is that a full-blown, vivid recollection of a prior event is not diagnostic of its prior occurrence; it is perfectly possible to vividly recollect an event that was only previously imagined or thought about. The stories we tell ourselves and others color our memory for the object of the story. In this vein, retrieval has been described as a double-edged sword: It helps us remember what occurred previously (the testing effect), but it also can distort memory. Simple instructions to try to avoid false memories are often insufficient to do so.

Finally, memory’s reconstructive nature might be considered a cognitive asset rather than a drawback. Most of our misguided recollections are fairly harmless, and many inferences about another’s conversational intent are probably correct—in the foregoing example, the baby probably was crying all night. Only in the high-stakes atmosphere of, say, the courtroom or the police lineup does it become critical to disentangle the wheat of accurate memory from the chaff of imagination, inference, conjecture, and embellishment.

See Also

Reconstructive Memory

Bibliography

Bartlett, F. C. (1932). Remembering: A study in experimental and social psychology. New York: Macmillan.

Bransford, J. D., and Franks, J. J. (1971). The abstraction of linguistic ideas. Cognitive Psychology 2, 331-350.

Brewer, W. F. (1977). Memory for the pragmatic implications of sentences. Memory & Cognition 5, 673-678.

Garry, M., Manning, C. G., and Loftus, E. F. (1996). Imagination inflation: Imagining a childhood event inflates confidences that it occurred. Psychonomic Bulletin & Review 3, 208-214.

Goff, L. M., and Roediger, H. L., III. (1998). Imagination inflation for action events: Repeated imaginings lead to illusory recollections. Memory & Cognition 26, 20-33.

Hicks, J. L., and Marsh, R. L. (2001). False recognition occurs more frequently during source identification than during oldnew recognition. Journal of Experimental Psychology: Learning, Memory, and Cognition 27, 375-383.

Hyman, I. E., and Billings, F. J. (1998). Individual differences and the creation of false childhood memories. Memory 6, 1-20.

Johnson, M. K., Hashtroudi, S., and Lindsay, D. S. (1993). Source monitoring. Psychological Bulletin 114, 3-28.

Johnson, M. K., and Raye, C. L. (1981). Reality monitoring. Psychological Review 88, 67-85.

Loftus, E. F. (1993). The reality of repressed memories. American Psychologist 48, 518-537.

Loftus, E. F., and Palmer, J. C. (1974). Reconstruction of automobile destruction: An example of the interaction between language and memory. Journal of Verbal Learning and Verbal Behavior 13, 585-589.

McGeoch, J. A. (1932). Forgetting and the law of disuse. Psychological Review 39, 352-370.

Melcher, J. M., and Schooler, J. W. (1996). The misremembrance of wines past: Verbal and perceptual expertise differentially mediate verbal overshadowing of taste memory. Journal of Memory and Language 35, 231-245.

Roediger, H. L., and McDermott, K. B. (1995). Creating false memories: Remembering words not presented in lists. Journal of Experimental Psychology: Learning, Memory, and Cognition 21, 803-814.

—— (2000). Tricks of memory. Current Directions in Psychological Science 9, 123-127.

Tversky, B., and Marsh, E. (2000). Biased retellings of events yield biased memories. Cognitive Psychology 40, 1-38.

Balasan syurga bagi orang menahan marah, nafkahkan harta

Oleh Ahmad Redzuwan Mohd Yunus

SETIAP muslim bercita-cita untuk masuk syurga. Beruntunglah bagi mereka yang dimasukkan ke dalam syurga Allah SWT. Mereka adalah orang yang taat kepada Allah SWT dan sentiasa berusaha menjauhkan diri daripada perkara dilarang-Nya.

Allah SWT menjelaskan mengenai sifat mereka yang akan masuk syurga, yang pertama ialah mereka suka menafkahkan harta pada jalan Allah SWT sama ada di waktu senang mahupun susah.

Firman Allah yang bermaksud: “Iaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang mahupun sempit.” (Surah ali-Imran, ayat 134)

Sifat kedua yang ada pada ahli syurga, mereka adalah orang yang kuat menahan sifat marahnya dan suka pula memaafkan orang lain. Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang.” (Surah ali-Imran, ayat 134)

Rasulullah SAW pernah menjelaskan bahawa orang yang kuat dalam pandangan syarak ialah mereka yang berjaya mengawal perasaannya ketika marah untuk mengelak daripada bencana lebih buruk.

Hal itu dijelaskan Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Orang yang kuat itu bukan terletak pada kemampuan berkelahi, tetapi orang yang kuat itu adalah yang dapat mengendalikan diri mereka ketika sedang marah.” (Hadis riwayat Imam Ahmad)

Islam mengajar umatnya bagaimana mengendalikan diri dalam keadaan marah supaya sifat marahnya itu tidak berlarutan.

Daripada Abu Dzar, ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah berpesan kepada kami dengan sabdanya yang bermaksud: “Jika salah seorang antara kalian marah sedang pada saat itu ia dalam keadaan berdiri, maka hendaklah ia duduk. Namun jika tidak hilang juga marahnya, maka hendaklah ia berbaring.” (Hadis riwayat Imam Ahmad)

Selain itu, mereka yang sedang marah juga boleh memadamkan kemarahannya dengan berwuduk. Hal itu dijelaskan Rasulullah SAW melalui sabdanya yang bermaksud: “Sesungguhnya marah itu daripada syaitan dan sesungguhnya syaitan itu diciptakan daripada api, dan api itu hanya dapat dipadamkan dengan air. Oleh kerana itu, jika salah seorang daripada kamu marah, maka hendaklah ia berwuduk.” (Hadis riwayat Abu Daud)

Mereka yang berjaya menahan amarahnya supaya tidak merebak akan mendapat ganjaran di sisi Allah SWT di dalam syurga kelak, di mana mereka boleh memilih mana-mana bidadari yang mereka sukakan.

Daripada Sahl bin Muaz bin Anas, daripada ayahnya, bahawa Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Barang sesiapa menahan amarahnya pada hal ia mampu untuk menumpahkannya, maka Allah SWT akan memanggilnya di hadapan para pemimpin makhluk, lalu Allah SWT memberinya kebebasan untuk memilih bidadari mana yang ia sukai.” (Hadis riwayat al-Tirmizi dan Ibn Majah)

Di samping mampu menahan sifat marah, sifat ahli syurga juga ialah mereka suka memaafkan orang yang melakukan kesalahan terhadap diri mereka, sehingga tidak ada sedikitpun niat dalam diri mereka untuk membalas dendam kepada seseorang.

Rasulullah SAW menjelaskan daripada Ubay bin Kaab, di mana baginda bersabda yang bermaksud: “Barang sesiapa yang ingin dimuliakan tempat tinggalnya dan ditinggikan darjatnya, maka hendaklah ia memberi maaf kepada orang yang telah menzaliminya, memberi kepada orang yang tidak mahu memberi kepadanya dan menyambung silaturahim kepada orang yang memutuskannya.” (Hadis riwayat al-Hakim)

Sifat ketiga yang ada pada ahli syurga ialah mereka suka memohon ampun terhadap kesalahan mereka. Firman Allah yang bermaksud: “Dan juga orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa mereka dan siapa lagi dapat mengampuni dosa selain daripada Allah.” (Surah ali Imran, ayat 135).

Bagi mereka yang memohon keampunan kepada Allah SWT, Allah SWT akan mengampunkannya. Daripada Abu Said, Nabi SAW bersabda yang bermaksud: “Iblis berkata: Wahai Tuhanku, demi kemuliaan-Mu, aku akan terus menggoda anak cucu Adam selama roh mereka masih berada di tubuh mereka. Allah pun menjawab: Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tetap akan memberi ampunan kepada mereka selama mereka memohon ampunan kepada-Ku.” (Hadis riwayat Imam Ahmad)

Rasulullah SAW juga mengingatkan mereka yang selalu memberi ampunan kepada seseorang akan mudah mendapat keampunan daripada Allah.

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “Berikanlah kasih sayang, nescaya kalian akan dikasihi dan berilah keampunan, nescaya kalian akan diberikan keampunan. Celakalah bagi orang-orang yang mendengar perkataan, tetapi tidak mengamalkan dan celaka pula bagi orang-orang yang terus menerus berbuat dosa yang mereka kerjakan, sedang mereka mengetahui (larangan berbuat dosa itu).” (Hadis riwayat Imam Ahmad).

Pemikiran hebat, berzikir mesti saling melengkapi

Ulul Albab oleh Abdurrahman Haqqi

DI HADAPAN kita ada dua senario yang tidak ada senario ketiganya. Senario pertama berkaitan dengan zikir dan senario kedua berkaitan dengan fikir di mana zikir tanpa fikir tidak akan ke mana dan fikir tanpa zikir akan sesat dan membinasakan.

Apa yang paling disukai oleh sepasang kekasih ketika mereka sedang memadu kasih sayang sehingga kehidupan mereka terasa indah dan bermakna? Walaupun banyak jawapan yang mungkin kita dapati, cuba kita pusatkan jawapannya kepada saling mengingati. Seorang kekasih akan gembira dan senang hati jika mereka selalu mengingati dan diingati oleh kekasih mereka di mana dengan ingatan itu mereka akan berasa senang hati pula untuk meneruskan aktiviti kehidupan mereka dengan penuh himmah dan keceriaan. Inilah natijah konsep zikir dalam Islam. Ketika kita mencintai Allah, kita akan selalu mengingati-Nya dan ketika itu jualah yang kita ingati yakni Allah akan mengingati kita dan apabila Allah mengingati kita maka semua naungan dan pertolongan Allah akan kita peroleh. Allah SWT berfirman maksudnya: “Oleh itu, ingatlah kamu kepada-Ku nescaya Aku mengingatimu.” (Surah al-Baqarah: 152)

Apabila kita mencintai sesuatu maka kita akan selalu berfikir agar kecintaan kita itu selalu memberikan kebaikan kepada kita. Kita akan selalu berfikir bagaimana kita boleh mengekalkan percintaan berkenaan. Kita akan selalu berfikir bagaimana kita boleh mencari kepelbagaian agar percintaan itu akan selalu hidup dan berkembang. Inilah konsep fikir dalam Islam. Ketika kita mengharapkan keredaan Allah, kita akan selalu menggunakan akal fikiran bagaimana mendapatkan, menambahtumbuhkan dan mempelbagaikannya. Itulah hakikat yang kita simpulkan daripada 17 ayat al-Quran (sama dengan 17 raka’at yang kita lakukan sehari semalam untuk solat) yang menegaskan mengenai perkara tafakur atau fikir.

Dua senario di atas adalah sifat masyarakat ulul albab yang digariskan al-Quran dalam ayatnya yang bermaksud: “Sesungguhnya pada kejadian langit dan bumi, dan pada pertukaran malam dan siang, ada tanda-tanda (kekuasaan, kebijaksanaan dan keluasan rahmat Allah) bagi orang yang berakal; (iaitu) orang yang menyebut dan mengingati Allah ketika mereka berdiri dan duduk dan ketika mereka berbaring mengiring, dan mereka pula memikirkan mengenai kejadian langit dan bumi (sambil berkata): “Wahai Tuhan kami! Tidaklah Engkau menjadikan benda-benda ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami daripada azab neraka.” (Surah Ali ’Imran: 190-91)Dalam ayat di atas perkataan yang digunakan adalah kata jamak bagi ‘orang yang menyebut dan mengingati Allah’. Ini mengisyaratkan kepada kita bahawa ia adalah galakan secara kolektif dalam berzikir dan bertafakur walaupun pada asasnya ia ditujukan kepada individu.

Berzikir dalam pengertian terminologi dihadkan kepada ucapan lisan untuk menyebut dan mengingati Allah zikr al-lisan. Bagaimanapun, sebenarnya ia lebih luas daripada itu. Ia boleh menjadi zikr al-qalb atau zikir hati dan juga zikr al-jawarih atau zikir anggota badan. Pembahagian zikir seperti ini tersirat dalam ayat di atas pada kalimat “ketika mereka berdiri dan duduk dan ketika mereka berbaring mengiring”.

Ketika kita mengucapkan dengan lisan lafaz ‘la ilaha illallah’ maka ia disebut zikr al-lisan. Ketika kita dalam hati menegaskan lafaz itu menjadi tiada Tuhan yang layak disembah melainkan Allah, maka ia disebut zikr al-qalb. Dan akhirnya ketika kita menjelmakan menerusi anggota badan dalam beribadah, bermu’amalat, bermunakahah, dan perundangan yang hanya ditujukan kepada Allah semata-mata dan tidak dipesongkan kepada tuhan lain, maka ia disebut zikr al-jawarih.

Agar zikir kita sempurna maka ketiga-tiga perkara di atas mestilah ada dan diambil kira, maka fadilat zikir bagi individu dan masyarakat yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya akan dinikmati.

Al-Quran menegaskan bahawa dengan zikir, hati kita akan tenteram dan damai dalam ayatnya bermaksud: “(iaitu) orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan mengingati Allah. Ketahuilah dengan mengingati Allah itu, tenang tenteramlah hati manusia.” (Surah al-Ra’du: 28)

Dengan berzikir maka kita sedang menumbuhkembangkan keimanan kita. Nabi bersabda maksudnya: “Nyanyian dan permainan hiburan yang melalaikan menumbuhkan kemunafikan dalam hati, bagaikan air menumbuhkan rumput. Demi yang jiwaku dalam genggaman-Nya, sesungguhnya al-Quran dan zikir menumbuhkan keimanan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan rumput.” (Hadis riwayat al-Dailami)

Dalam sebuah hadis disebutkan bahawa berzikir adalah satu proses penyembuhan. Imam al-Baihaqi meriwayatkan maksudnya: ‘Menyebut-nyebut Allah adalah suatu penyembuhan dan menyebut-nyebut mengenai manusia adalah suatu penyakit (penyakit akhlak).’

Bahkan ditegaskan dalam sebuah hadis bahawa perbezaan orang yang hidup dan yang mati adalah zikir. Sabda Junjungan seperti diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim maksudnya: ‘Perumpamaan orang yang berzikir kepada Tuhannya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati.’

Justeru, zikir adalah penyelamat manusia daripada seksa neraka jahanam seperti yang terkandung dalam hadis bermaksud: ‘Tiada amal perbuatan anak Adam yang lebih menyelamatkannya daripada azab Allah selain zikrullah.’ (Hadis riwayat Ahmad)

Jika kita secara sepintas memerhati ucapan ‘Tuhanku, semakin Aku berilmu semakin bertambah kejahilanku, tambahkanlah kejahilan kepadaku,’ sudah tentu kita akan terperanjat kerana ia bertentangan dengan doa yang selalu kita baca, rabbi zidni ‘ilman atau Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku. Tapi jika kita perhatikan ucapan berkenaan dengan saksama maka kedua-duanya tidak berbeza dari segi isinya walaupun bahasanya memang berbeza. Inilah hasil daripada proses berfikir yang dilakukan akal manusia.

Ada 17 ayat al-Quran yang menyentuh seruan kepada manusia untuk berfikir, tafakkarun dan yatafakkarun al-Quran menggalakkan kita untuk selalu berfikir kerana dengan berfikir kita akan mencapai apa yang kita tuju dan hajati. Semua yang manusia ciptakan sejak Nabi Adam hingga ke hari ini bahkan sampai kiamat kelak adalah hasil daripada penggunaan fikiran manusia.

Dengan adanya fikiran dan menggunakannya maka seorang manusia itu disahkan hidup. Dengan meminjam ada yang ditemui bapa falsafah sains moden Rene Descartes (1596-1650) dalam Cogito ergo sum atau ‘aku berfikir maka aku wujud, hidup’, kita boleh menggunakannya dalam membentuk masyarakat yang makmur, bukan yang membinasakan.

Descartes adalah seorang ahli matematik yang berupaya membangun falsafah seperti konstruksi matematik. Oleh itu, dia memulakannya dengan suatu keraguan dan melanjutkannya dengan metod matematik. Dengan ini, terbentuklah suatu falsafah baru. Dia memulakan dengan langkah seorang skeptis dan keluar daripada keraguan sebagaimana yang dilakukan oleh Augustine. (A Kamil ‘Meragukan Kesangsian Dsecartes’)

Dengan metod pemikiran di ataslah, tamadun Barat secara amnya dibangunkan hari ini. Sayangnya mereka mengetepikan senario zikir sehingga apa yang terjadi sekarang adalah penciptaan permusuhan di kalangan masyarakat dunia yang mana yang ada pada diri mereka adalah siapa bersama kami adalah teman kami dan siapa yang menentang kami adalah musuh kami.

Masyarakat dunia sememangnya memikirkan kemakmuran manusia tapi tidak berpandukan zikir oleh itu mereka sesat dan menyesatkan. Sebagai contoh, mereka pada tahun 1980-an telah menghamburkan wang sebanyak AS$4,000 bilion untuk membangunkan projek pembunuh mereka sendiri yang bernama senjata nuklear sejak Perang Dunia Kedua. Senjata nuklear berkenaan cukup untuk membunuh AS$58 bilion orang yakni 12 kali ganda jumlah penduduk dunia waktu itu. Dan pada saat itu, biaya yang dikeluarkan untuk seorang tentera adalah AS$25,000 manakala untuk pendidikan hanya AS$450. Untuk operasi kapal induk Amerika Syarikat diperlukan biaya AS$550,000 sehari manakala 14,000 orang mati kebuluran di Afrika. (Laporan dibuat oleh bekas pegawai Perlucutan dan Pengawasan AS, Ruth Sivard dalam ‘Pengeluaran sosial dan ketenteraan dunia 1985’) Inilah akibat daripada fikiran manusia yang tidak berlandaskan zikir.

Berfikir dalam ajaran Islam lebih baik daripada ibadah seperti dalam hadis tafakur sa’ah khairun min ‘ibadah sanah atau berfikir sejenak adalah lebih baik daripada setahun ibadah. Oleh itu, orang yang berfikir mempunyai kedudukan tersendiri di sisi Allah. Mereka selalu dimotivasi dalam al-Quran dengan seruan untuk berfikir kerana dengan berfikir maka ilmu pengetahuan diperoleh. Dengan ilmu pengetahuan yang semakin tinggi sebagai hasil daripada proses pemikiran maka ia menjadi penimbang aras tamadun dan budaya yang mencakupi aktiviti berfikir, berperasaan dan berkemahuan. Pada tahap ini, kegiatan berfikir (tafakur), pengajian (mutala’ah) dan penyelidikan (tadabbur) semakin subur yang ditujukan untuk usaha pemenuhan keperluan material mahupun spiritual.

Dalam memperingati Maal Hijrah 1429 sudah menjadi kewajipan umat Islam untuk selalu berzikir dan berfikir demi mencapai kemakmuran bukan untuk memporak perandakan bangunan yang sudah kita bina dengan megah dan indah. Kita mesti kembali kepada ajaran al-Quran yang menggariskan masyarakat ulul albab yang mempunyai sifat zikir dan fikir.

Akhirnya, menerusi zikir dan fikir yang diterapkan dalam masyarakat maka kita akan memperoleh apa yang kita hajati dalam doa dan harapan kita. Allah berfirman maksudnya: “Maka Tuhan mereka perkenankan doa mereka (dengan firman-Nya: ‘Sesungguhnya Aku tidak akan sia-siakan amal orang yang beramal dari kalangan kamu, sama ada lelaki atau perempuan’. (Surah Ali ‘Imran: 195) Wallahu a’lam.

CIRI-CIRI SEORANG PEMIMPIN ISLAM

Bagi memastikan pemimpin yang dilantik berupaya menjalankan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik serta mencapai matlamat kerajaan Islam yang diterajuinya, maka hendaklah dipastikan agar calon-calon pemimpin ini memenuhi ciri-ciri yang telah digariskan oleh Fuqahak Islam[1];

1. Mereka mestilah terdiri daripada orang-orang yang benar-benar beriman atau yakin dengan prinsip-prinsip tanggungjawab yang terangkum dalam pengertian Khilafah kerana tanggungjawab mentadbir atau mengurus mana-mana sistem atau peraturan tidak boleh dipikulkan ke atas bahu orang-orang yang menentang prinsip-prinsip dan asasnya.

Firman Allah S.W.T.;

يَآ أيــُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لَاْ تــَتــَّخِذُوْا بــِطَاْنــَةً مِنْ دُوْنـِكُمْ (النساء : 59)
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang yang bukan dari kalangan kamu menjadi “orang dalam” (yang dipercayai)”.

2. Mereka tidak terdiri daripada orang-orang zalim, fasiq, fajir dan lalai terhadap Allah serta bertindak melanggar batas-batas yang ditetapkan oleh Allah. Sebaliknya mereka hendaklah terdiri dari orang-orang yang beriman, bertakwa dan mengerjakan amal soleh.

وَ لَاْ تــُطِعْ مَنْ أغْفَلْنَاْ قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنــَاْ وَاتــَّبَعَ هَوَاْهُ وَ كَاْنَ أمْرُهُ فُرُطًا (الكهف : 28)
“Dan janganlah engkau mematuhi orang yang Kami ketahui hatinya lalai daripada mengingati dan mematuhi pengajaran Kami di dalam al-Quran, serta ia menurut hawa nafsunya, dan tingkahlakunya pula adalah melampaui kebenaran”.

3. Mereka bukanlah dari kalangan orang-orang yang jahil dan tidak mempunyai kecerdikan (sufaha’) sebaliknya hendaklah terdiri daripada ulama’ atau ilmuan yang berakal sempurna, yang memiliki kefahaman dan basirah serta mempunyai kelayakan dari segi intelek dan fizikal untuk mentadbir urusan-urusan khilafah.

وَ لَاْ تــُؤْتــُوْا السُّفَهَاْءَ أمْوَاْلَكُمُ الَّتِيْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَاْمًا (النساء : 5)
“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna aqalnya akan harta kamu yang Allah telah menjadikannya untuk kamu sebagai asas pembangunan kehidupan kamu”.
قُلْ هَلْ يَسْتــَوِي الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَ الَّذِيْنَ لَاْ يَعْلَمُوْنَ (الزمر : 9)
“Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui”.

4. Mereka mestilah terdiri daripada orang-orang yang amanah sehingga dapat dipikulkan tanggungjawab kepada mereka dengan kepercayaan dan tanpa keraguan.

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تــُؤَدُّوْا الْأَمَاْنَاْتِ اِلَى أهْلِهَاْ (النساء : 58)
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu supaya menyerahkan segala jenis amanah kepada ahlinya (yang berhak menerimanya)[2]”.

Mana-mana orang Islam yang diberi kuasa atau peluang untuk melantik pemimpin atau menentukan pimpinan di kalangan umat Islam, maka mereka hendaklah melihat dan mengambil kira ciri-ciri di atas dalam menentukan siapakah yang sepatutnya menjadi pemimpin mereka. Mengabaikan ciri-ciri di atas dalam pemilihan pemimpin akan memberi satu kesan yang buruk kepada masa depan Islam dan juga umat Islam. Melantik pemimpin-pemimpin yang tidak memahami tanggungjawab mereka sebagai khalifah atau bersifat fasiq, zalim dan fujur atau tidak memiliki kelayakan ilmu, intelektual dan fizikal untuk memerintah bererti mendedahkan umat Islam kepada pelbagai kerosakan dan penyelewengan dalam kehidupan duniawi dan agama mereka.
[1] Al-Khilafatu Wal-Muulku, Abul A’la Al-Maududi, m.s 22-24, cet. Darul-Qalam Kuwait (1978).
[2] Termasuk dalam pengertian “menyerahkan amanah kepada ahlinya” dalam ayat ini ialah menyerahkan jawatan-jawatan kepada orang-orang yang selayaknya. (Tafsir Ruhul-Ma’ani, Imam Alisu).

Memperbaiki kehidupan dituntut syarak

Oleh Wan Marzuki Wan Ramli

Proses hijrah perlukan ummah muhasabah diri atasi permasalah bagi cipta kejayaan

KITA panjatkan rasa syukur kerana masih lagi dipanjangkan usia untuk bersama melangkah ke tahun baru 1429 hijrah dengan himpunan semangat dan kekuatan membina lembaran kehidupan sebagai insan mukmin yang beriman dan beramal salih.

Perpindahan Rasulullah SAW dan umat Islam dari Makkah ke Madinah menjadi lambang dan obor setiap insan mukmin bagi menterjemah apa yang tersirat di sebalik penghijrahan yang banyak mencatat kemenangan Islam.

Muhasabah diri setiap dari umat Islam sebenarnya menjadi asas yang kuat bagi menangani apa juga permasalahan diri yang timbul untuk disesuaikan dengan konteks hijrah itu sendiri. Banyak pengajaran dan iktibar yang boleh diambil daripada peristiwa penghijrahan Rasulullah SAW.

Baginda SAW membuat perancangan cukup teliti bagi memilih tempat yang difikirkan sesuai untuk berhijrah memandangkan keadaan semasa umat Islam Makkah yang kian tertekan dengan ugutan dan ancaman kafir Quraisy.Biarpun perintah untuk berhijrah datangnya daripada Allah, tetapi Rasulullah SAW tidak menggantung harapan penuh kepada pertolongan Allah tanpa mengambil tindakan perlu bagi memastikan kejayaan proses penghijrahan ini.

Baginda SAW memilih Ali bin Abi Talib untuk menggantikan Baginda di tempat tidur, sementara Abu Bakar pula dipilih sebagai teman sepanjang berhijrah. Abdullah bin Urqith berperanan sebagai penunjuk jalan ke Madinah, Abdullah bin Abu Bakar sebagai penyampai berita, manakala Asma’ binti Abu Bakar pula menjadi penghantar makanan kepada Baginda dan Abu Bakar ketika bersembunyi di Gua Thur.

SEJARAH SOLAT 5 WAKTU

Teladan 667: Sejarah Solat 5 Waktu
Posted on Thursday, January 10 @ 06:34:53 MYT by SongkokPutih

Teladan SolatNabi Muhammad SAW merupakan nabi terakhir yang diutuskan oleh Allah SWT untuk membimbing manusia ke arah jalan kebenaran. Tidak seperti umat nabi-nabi yang lain, umat nabi Muhammad telah diperintahkan untuk mengerjakan solat 5 waktu setiap hari. Ini merupakan kelebihan dan anugerah Allah SWT terhadap umat nabi Muhammad dimana solat tersebut akan memberikan perlindungan ketika di hari pembalasan kelak. Berikut diterangkan asal-usul bagaimana setiap solat mula dikerjakan.

SUBUH

Manusia pertama yang mengerjakan solat subuh ialah Nabi Adam a.s. iaitu ketika baginda keluar dari syurga lalu diturunkan ke bumi. Perkara pertama yang dilihatnya ialah kegelapan dan baginda berasa takut yang amat sangat. Apabila fajar subuh telah keluar, Nabi Adam a.s. pun bersembahyang dua rakaat.

 i) Rakaat pertama: Tanda bersyukur kerana baginda terlepas dari kegelapan malam.

 ii) Rakaat kedua: Tanda bersyukur kerana siang telah menjelma.
 

ZOHOR

Manusia pertama yang mengerjakan solat Zohor ialah Nabi Ibrahim a.s. iaitu tatkala Allah SWT telah memerintahkan padanya agar menyembelih anaknya Nabi Ismail a.s.. Seruan itu datang pada waktu tergelincir matahari, lalu sujudlah Nabi Ibrahim sebanyak empat rakaat.

i) Rakaat pertama: Tanda bersyukur bagi penebusan.

ii) Rakaat kedua: Tanda bersyukur kerana dibukakan dukacitanya dan juga anaknya.

iii) Rakaat ketiga: Tanda bersyukur dan memohon akan keredhaan Allah SWT.

iv) Rakaat keempat: Tanda bersyukur kerana korbannya digantikan dengan tebusan kibas.
 

ASAR

Manusia pertama yang mengerjakan solat Asar ialah Nabi Yunus a.s. tatkala baginda dikeluarkan oleh Allah SWT dari perut ikan Nun. Ikan Nun telah memuntahkan Nabi Yunus di tepi pantai, sedang ketika itu telah masuk waktu Asar. Maka bersyukurlah Nabi Yunus lalu bersembahyang empat rakaat kerana baginda telah diselamatkan oleh Allah SWT daripada 4 kegelapan iaitu:

i) Rakaat pertama: Kelam dengan kesalahan.
ii) Rakaat kedua: Kelam dengan air laut.
iii) Rakaat ketiga: Kelam dengan malam.
iv) Rakaat keempat: Kelam dengan perut ikan Nun. 

 
MAGHRIB

Manusia pertama yang mengerjakan solat Maghrib ialah Nabi Isa a.s. iaitu ketika baginda dikeluarkan oleh Allah SWT dari kejahilan dan kebodohan kaumnya, sedang waktu itu telah terbenamnya matahari. Bersyukur Nabi Isa, lalu bersembahyang tiga rakaat kerana diselamatkan dari kejahilan tersebut iaitu:

i) Rakaat pertama: Untuk menafikan ketuhanan selain daripada Allah yang Maha Esa.

ii) Rakaat kedua: Untuk menafikan tuduhan dan juga tohmahan ke atas ibunya Siti Mariam yang telah dituduh melakukan perbuatan sumbang.

iii) Rakaat ketiga: Untuk meyakinkan kaumnya bahawa Tuhan itu hanya satu iaitu Allah SWT semata-mata,  tiada dua atau tiganya.
 

ISYAK

Manusia pertama yang mengerjakan solat Isyak ialah Nabi Musa a.s.. Pada ketika itu, Nabi Musa telah tersesat  mencari jalan keluar dari negeri Madyan, sedang dalam dadanya penuh dengan perasaan dukacita. Allah SWT  menghilangkan semua perasaan dukacitanya itu pada waktu Isyak yang akhir. Lalu sembahyanglah Nabi Musa  empat rakaat sebagai tanda bersyukur.

i) Rakaat pertama: Tanda dukacita terhadap isterinya.
ii) Rakaat kedua: Tanda dukacita terhadap saudaranya Nabi Harun.iii) Rakaat ketiga: Tanda dukacita terhadap Firaun.


iv) Rakaat keempat: Tanda dukacita terhadap anak Firaun